4 Jenis Bahan Bunker dan Karakteristiknya: HSFO, LSFO, MGO, dan IFO

Latest Post

Jenis bahan bakar yang digunakan kapal tidak selalu sama. Pemilihannya dipengaruhi oleh desain mesin, sistem treatment, rute pelayaran, persyaratan sulfur, ketersediaan fuel, serta kebijakan operasional vessel. Karena itu, shipowner dan operator perlu memahami perbedaan karakteristik fuel sebelum melakukan bunker planning.

Bagi perusahaan yang mencari Marine Fuel Supplier Indonesia, memahami istilah HSFO, LSFO, MGO, dan IFO membantu proses komunikasi dengan supplier menjadi lebih jelas. Keempat istilah tersebut tidak sepenuhnya berada dalam satu kategori klasifikasi yang sama, tetapi sering ditemukan dalam pembahasan bunker fuel.

Jenis Bahan Bunker dan Karakteristiknya

1. High Sulphur Fuel Oil (HSFO)

HSFO merupakan residual fuel dengan kandungan sulfur yang lebih tinggi daripada batas sulfur global MARPOL Annex VI yang berlaku untuk penggunaan biasa tanpa metode kepatuhan alternatif. Sejak 1 Januari 2020, batas global sulfur fuel oil yang digunakan di luar ECA adalah 0,50% m/m.

Karena itu, penggunaan HSFO untuk combustion onboard umumnya terkait kapal yang menggunakan approved exhaust gas cleaning system atau kondisi lain yang diizinkan oleh regulasi. HSFO tetap memiliki karakteristik residual fuel seperti viskositas tinggi dan biasanya membutuhkan heating serta treatment onboard.

2. Low Sulphur Fuel Oil (LSFO)

LSFO mengacu pada fuel oil dengan kandungan sulfur lebih rendah. Dalam konteks IMO 2020, istilah Very Low Sulphur Fuel Oil (VLSFO) juga banyak digunakan untuk fuel oil yang memenuhi batas global 0,50% m/m. Untuk operasi di ECA, batas sulfur yang berlaku lebih ketat, yaitu 0,10% m/m.

Selain sulfur, operator tetap perlu memperhatikan compatibility, stability, viscosity, cold-flow properties, dan treatment requirement karena karakteristik blend LSFO dapat berbeda antarbatch.

3. Marine Gas Oil (MGO)

MGO merupakan marine distillate fuel dengan viskositas yang jauh lebih rendah dibanding residual fuel. Karena karakteristiknya, kebutuhan heating umumnya lebih rendah dan handling-nya berbeda dengan MFO. Kandungan sulfur MGO juga dapat bervariasi sesuai grade dan spesifikasi yang dipesan.

Dalam portfolio TURBION, kebutuhan Marine Gas Oil/Biosolar dapat didiskusikan berdasarkan aplikasi dan spesifikasi operasional. Distribusi Biosolar dilakukan melalui jaringan agent di Indonesia.

4. Intermediate Fuel Oil (IFO)

IFO adalah istilah yang secara historis digunakan untuk blend residual fuel dengan komponen distillate untuk mencapai karakteristik viskositas tertentu. Nama seperti IFO 180 atau IFO 380 merujuk pada kelas viskositas yang dikenal dalam praktik lama industri.

Ketika membeli fuel, operator sebaiknya tidak hanya mengandalkan nama dagang. Spesifikasi aktual pada kontrak, certificate of quality, dan standar yang disepakati jauh lebih penting untuk memastikan kesesuaian dengan mesin dan sistem kapal.

Kesimpulan

Tidak ada satu jenis bunker fuel yang otomatis menjadi pilihan terbaik untuk semua kapal. Engine requirement, sulfur compliance, treatment system, serta rute operasi perlu menjadi dasar keputusan.

Sebagai Marine Fuel Supplier Indonesia yang berbasis di Batam, TURBION menyediakan Marine Fuel Oil berupa LSFO dan HSFO dengan titik supply MFO di Batam. Layanan marine supply dilakukan melalui Ship-to-Ship dan Port-to-Ship. Untuk kebutuhan Biosolar, TURBION mendukung distribusi melalui jaringan agent di berbagai wilayah Indonesia.

Tags:

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *