Memilih bahan bakar yang tepat merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga performa mesin kapal, efisiensi operasional, dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku. Marine Fuel Oil (MFO) dan Marine Gas Oil (MGO) memiliki karakteristik yang berbeda sehingga penggunaannya perlu disesuaikan dengan spesifikasi kapal dan kebutuhan operasional.
Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan meliputi jenis mesin, regulasi emisi, kesiapan infrastruktur kapal, hingga efisiensi operasional dalam jangka panjang.
Langkah Penentuan Jenis BBM MFO atau MGO
- Sesuaikan dengan Kecepatan Putaran Mesin
Salah satu faktor utama dalam menentukan jenis bahan bakar adalah karakteristik mesin yang digunakan.
Marine Fuel Oil (MFO) umumnya digunakan pada mesin diesel putaran rendah (low-speed engine) yang banyak diaplikasikan pada kapal niaga berukuran besar maupun sistem pembakaran industri.
MFO sendiri tersedia dalam dua jenis, yaitu High Sulphur Fuel Oil (HSFO) dan Low Sulphur Fuel Oil (LSFO), yang dipilih sesuai dengan kebutuhan operasional serta regulasi emisi yang berlaku.
Sementara itu, Marine Gas Oil (MGO) lebih sesuai digunakan pada mesin diesel putaran sedang hingga tinggi (medium-speed dan high-speed engine), seperti auxiliary engine, generator kapal, kapal tunda, maupun kapal yang membutuhkan pembakaran lebih bersih.
- Pertimbangkan Regulasi Emisi
Selain spesifikasi mesin, regulasi emisi juga menjadi faktor penting dalam menentukan jenis bahan bakar.
Untuk operasional di wilayah dengan persyaratan emisi yang lebih ketat, penggunaan MGO atau LSFO umumnya menjadi pilihan karena memiliki kandungan sulfur yang lebih rendah.
Sementara itu, HSFO masih banyak digunakan pada kapal yang telah dilengkapi dengan exhaust gas cleaning system (scrubber) sehingga tetap dapat memenuhi ketentuan emisi yang berlaku.
Pemilihan bahan bakar sebaiknya selalu disesuaikan dengan rute pelayaran serta regulasi yang berlaku di wilayah operasional kapal.
- Evaluasi Kesiapan Sistem Bahan Bakar Kapal
Karena memiliki viskositas yang tinggi, Marine Fuel Oil (MFO) memerlukan sistem pemanasan agar dapat dialirkan dan dikabutkan secara optimal sebelum proses pembakaran.
Oleh karena itu, kapal yang menggunakan MFO perlu didukung oleh sistem penyimpanan dan pemanasan bahan bakar yang memadai.
Sebaliknya, Marine Gas Oil (MGO) memiliki viskositas yang lebih rendah sehingga dapat digunakan tanpa memerlukan proses pemanasan tambahan, menjadikannya lebih sederhana dari sisi pengoperasian.
- Pertimbangkan Efisiensi Operasional
Selain spesifikasi teknis, efisiensi operasional juga menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih bahan bakar.
Marine Fuel Oil (MFO) banyak digunakan pada operasional berskala besar karena mampu memberikan efisiensi untuk aplikasi tertentu. Namun, penggunaannya memerlukan perhatian terhadap sistem penanganan bahan bakar dan perawatan mesin akibat karakteristik residunya.
Di sisi lain, Marine Gas Oil (MGO) menawarkan pembakaran yang lebih bersih serta kebutuhan penanganan bahan bakar yang lebih sederhana, sehingga sesuai untuk aplikasi yang mengutamakan kemudahan operasional dan kepatuhan terhadap standar emisi.
Tidak ada satu jenis bahan bakar yang sepenuhnya lebih unggul. Pilihan terbaik bergantung pada spesifikasi mesin, karakteristik operasional, serta regulasi yang berlaku.
Selain Marine Fuel Oil (MFO) dan Marine Gas Oil (MGO), High Speed Diesel (HSD) juga menjadi pilihan untuk berbagai kebutuhan industri dan maritim.
Sebagai Fuel Supplier Indonesia, Turbion menyediakan berbagai pilihan bahan bakar, termasuk High Sulphur Fuel Oil (HSFO), Low Sulphur Fuel Oil (LSFO), Marine Gas Oil (MGO), High Speed Diesel (HSD), dan Biosolar, yang didukung layanan Ship-to-Ship (STS), Port-to-Ship (PTS), dan Trucking untuk memenuhi kebutuhan distribusi bahan bakar secara fleksibel dan andal.



