Apa Itu STS Bunkering? Cara Kerja, Keunggulan, dan Hal yang Perlu Diperhatikan

Latest Post

Ship to Ship (STS) bunkering adalah proses memindahkan marine fuel dari supplying vessel ke receiving vessel ketika kedua kapal berada alongside di area yang sesuai. Transfer dilakukan melalui marine hose dengan pengaturan mooring, fender, komunikasi, serta emergency procedure yang telah dipersiapkan.

Untuk Batam Bunkering, STS dapat menjadi pilihan ketika vessel membutuhkan pengisian MFO tanpa harus menggunakan metode supply dari darat. Namun, keunggulan operasionalnya tetap bergantung pada lokasi, cuaca, kesiapan kedua kapal, quantity, dan ketentuan otoritas setempat.

Tahapan dan Pertimbangan STS Bunkering

1. Persiapan sebelum Transfer

Sebelum kapal didekatkan, kedua pihak perlu menyepakati transfer plan, jenis dan quantity fuel, mooring arrangement, fendering, communication channel, maximum transfer rate, receiving tank, serta emergency stop procedure. Weather dan sea condition juga harus berada dalam batas operasi yang diizinkan.

2. Positioning, Mooring, dan Connection

Ketika kedua kapal sudah berada pada posisi aman, mooring dan fender disiapkan untuk menjaga jarak dan mengurangi risiko kontak langsung antar-hull. Marine hose kemudian dihubungkan ke manifold setelah safety checklist diselesaikan dan kedua pihak menyatakan siap.

3. Start Transfer dan Monitoring

Transfer biasanya dimulai dengan rate yang terkontrol untuk memastikan hose, manifold, valve, dan receiving tank berada pada konfigurasi yang benar. Setelah kondisi stabil, pumping rate dapat disesuaikan dengan transfer plan. Tekanan, flow, tank level, hose condition, cuaca, dan komunikasi dipantau selama operasi.

4. Keunggulan Operasional STS

STS memberikan fleksibilitas karena supply vessel dapat mendatangi receiving vessel di area operasi yang diizinkan. Dalam kondisi tertentu, metode ini dapat mengurangi kebutuhan vessel untuk melakukan berthing hanya untuk menerima fuel. Dampak terhadap waktu dan biaya tetap perlu dihitung berdasarkan voyage plan dan kondisi aktual.

5. Risiko Keselamatan dan Lingkungan

Karena transfer dilakukan antarkapal, perubahan cuaca, current, relative movement, mooring failure, hose damage, atau human error dapat meningkatkan risiko. Itulah sebabnya STS membutuhkan planning, trained personnel, communication discipline, spill response readiness, dan stop work authority ketika kondisi tidak aman.

6. Setelah Transfer Selesai

Setelah pumping dihentikan, hose handling, final measurement, sample sealing, quantity reconciliation, dan dokumen delivery perlu diselesaikan sebelum kedua kapal berpisah. Discrepancy yang ditemukan harus didokumentasikan sesuai prosedur.

Kesimpulan

STS bunkering dapat menjadi solusi yang fleksibel untuk vessel yang membutuhkan marine fuel di area yang mendukung operasi ship-to-ship. Keberhasilannya bergantung pada persiapan, kondisi lapangan, komunikasi, dan disiplin terhadap safety procedure.

TURBION menyediakan layanan Ship-to-Ship untuk MFO berupa LSFO dan HSFO di Batam. Bagi shipping company yang beroperasi di sekitar Singapore, titik pengisian TURBION tetap berada di Batam. Vessel dapat merencanakan bunker call di Batam berdasarkan quantity dan jadwal operasional.

Tags:

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *