6 Jenis Bunkering Kapal: Metode Transfer, Keunggulan, dan Tantangannya

Latest Post

Bunkering dapat dilakukan dengan beberapa cara, tergantung lokasi kapal, infrastruktur pelabuhan, quantity, jenis fuel, serta kebutuhan operasional. Istilah yang digunakan di industri terkadang tumpang tindih. Contohnya, barge-to-ship pada dasarnya merupakan salah satu bentuk transfer vessel-to-vessel, tetapi sering disebut terpisah untuk menekankan penggunaan bunker barge.

Bagi operator yang merencanakan Batam Bunkering, memahami perbedaan metode membantu menentukan arrangement yang paling sesuai. Berikut enam bentuk bunkering yang umum dibahas dalam industri.

Metode dan Pendekatan Bunkering Kapal

1. Ship-to-Ship (STS)

Ship-to-Ship bunkering memindahkan fuel dari supplying vessel ke receiving vessel ketika keduanya berada alongside di area yang diizinkan. Metode ini menawarkan fleksibilitas karena receiving vessel tidak selalu harus bersandar di terminal. Namun, mooring, fendering, hose arrangement, weather limit, communication, dan emergency procedure harus dikelola dengan ketat.

2. Barge-to-Ship

Barge-to-ship menggunakan bunker barge sebagai supplying vessel. Secara teknis, metode ini dapat dianggap sebagai bentuk STS. Keunggulannya adalah kemampuan membawa quantity yang relatif besar dan mendatangi receiving vessel. Tantangannya tetap terkait weather, availability barge, marine traffic, dan koordinasi operasi.

3. Truck-to-Ship

Truck-to-ship memindahkan fuel dari road tanker ke kapal yang berada di berth atau area yang dapat diakses kendaraan. Metode ini cocok untuk quantity tertentu dan lokasi yang memiliki akses jalan memadai. Kapasitas truck, traffic, safety zone, hose routing, dan izin area menjadi faktor penting.

4. Shore-to-Ship atau Pipeline

Shore-to-ship menggunakan storage tank di darat dan pipeline atau hose untuk menyalurkan fuel ke kapal yang bersandar. Metode ini dapat menawarkan delivery rate yang tinggi pada terminal yang memiliki infrastruktur memadai. Kapal harus berada pada berth yang sesuai dan mengikuti prosedur terminal.

5. LNG Bunkering

LNG bunkering merujuk pada pengisian LNG sebagai marine fuel. Transfer dapat dilakukan melalui truck to ship, ship to ship, atau land to ship dengan peralatan cryogenic khusus. Karena sifat LNG, desain fasilitas dan safety procedure berbeda dari conventional fuel oil bunkering.

6. Alternative Fuel Bunkering

Istilah ini mencakup pengisian bahan bakar alternatif seperti methanol, ammonia, biofuel, atau fuel baru lainnya. Ini bukan satu metode transfer tunggal; arrangement-nya bergantung pada sifat fuel dan teknologi kapal. Peralatan, material compatibility, training, dan safety requirement menjadi pertimbangan utama.

Kesimpulan

Metode bunkering sebaiknya dipilih berdasarkan kebutuhan vessel dan kemampuan supply point, bukan sekadar karena satu metode dianggap lebih cepat atau lebih murah. Quantity, schedule, safety, weather, berth availability, dan spesifikasi fuel perlu dievaluasi bersama.

Di TURBION, layanan marine fuel di Batam difokuskan pada Ship-to-Ship dan Port-to-Ship untuk kebutuhan MFO berupa LSFO dan HSFO. TURBION juga menyediakan Land Delivery untuk kebutuhan fuel di darat.

Tags:

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *